Informasi & Berita

Teknologi Printer BIM

Teknologi Printer BIM

Printer BIM | Pencetak (EN: Printer) adalah peranti yang menampilkan data dalam bentuk cetakan, baik berupa teks maupun gambar / grafik, di atas kertas.

Pencetak biasanya terbagi atas beberapa bagian, yaitu penggetil (picker) sebagai alat mengambil kertas dari baki (tray). Baki merupakan tempat menaruh kertas.

Tinta atau Tinta Bubuk (toner) adalah alat pencetak sesungguhnya karena ada sesuatu yang disebut tinta atau tinta bubuk yang digunakan untuk menulis/mencetak pada kertas.

Perbedaan tinta bubuk dan tinta ialah perbedaan sistem, tinta bubuk atau laser butuh pemanasan, sedangkan tinta atau sembur tinta tak butuh pemanasan, hanya pembersihan pada hulu pencetak (print-head) tersebut. mencetak di atas kertas, mencetak di kain, kaca, film putih, ebonit, dll.

Ada pula kabel lentur untuk pengiriman sinyal dari pengolah pencetak ke tinta atau tinta bubuk. Kabel ini tipis dan lentur, tetapi kuat. Pada bagian belakang pencetak biasanya ada colokan sejajar atau USB atau juga serial port (printer versi lama) untuk penghubung ke komputer.

Pencetak / printer modem merupakan alat canggih. Perkakasan elektronik yang terdapat dalam sebuah pencetak / printer sama dengan perkakasan elektronik yang terdapat dalam komputer itu sendiri.

6 Jenis Pencetak / Printer (wikipedia) :

  1. DotMatrix
  2. Daisy Wheel
  3. InkJet / jenis Bubble Jet
  4. Chain
  5. Drum
  6. Laser Jet

Ternyata, sejarah dari pencetak / printer ini sesungguhnya terbentang hingga ratusan tahun bahkan sampai ribuan tahun silam. Mulai dari China, di abad ke dua dan tiga Masehi, sekitar tahun 220 M, alat cetak terbuat dari kayu sudah ditemukan.

Buku tertua yang ditemukan menggunakan alat pencetak / printer ini diketahui dicetak pada tahun 868 M. Seratus tahun kemudian, alat ini juga popular di kebudayaan Islam hingga abad ke-14 M. Alat ini mendapatkan sebutan sebagai Tharsy.

Perbedaannya dengan yang dibuat di China adalah, Tharsy ini menggunakan pencetak dari logam yang dibentuk oleh cetakan dari tanah liat, sehingga lebih mudah dirawat, juga lebih awet serta dapat digunakan kembali. Sayangnya, alat ini kemudian punah pada sekitar Abad ke-14 M.

Selain Tharsy, Zahrawi (dokter di Spanyol) pun menciptakan alat cetak sendiri untuk melabeli obat-obatan yang ia racik.

Teknologi cetak kayu masuk ke Eropa pada sekitar abad ke-11 M untuk mencetak tekstil, kemudian ketika kertas mulai diperkenalkan oleh kalangan terpelajar dan ilmuwan Islam pada abad ke-12 M, mereka mulai mencetak lukisan dan juga mencetak kartu permainan.

Pada sekitar pada tahun 1440-an, Gutenberg mengembangkan teknologi alat cetak ini. Mesin cetak pertama dengan huruf dinamis dan bergerak, yang memberikan dampak yang luar biasa, pada tahun 1500 M dua juta judul buku lahir di eropa yang dicetak menggunakan teknologi Gutenberg ini.

Printer di Era Modern

Epson SureColor T5470 - archilantisSetelah Gutenberg, teknologi pencetakan dan alat pencetak / printer ini terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan juga kebutuhan serta seiring pula dengan perkembangan teknologi yang menyertainya.

Pada era modern, teknologi pencetak / printer berkembang pesat terutama di abad ke-20 ketika komputer sudah mulai masuk dalam kehidupan manusia yang awalnya diciptakan untuk memudahkan perhitungan yang rumit, hingga saat ini hampir merasuk pada setiap sendi kehidupan manusia, dari mulai kebutuhan profesional, Industri, kreatif hingga kegiatan sehari-hari.

Dari mulai perangkat di kantor dan Industri hingga alat genggam dan alat yang kita pakai. Dari server, workstation, desktop, laptop, OBCU / ECU (kendaraan, baik kendaraan pribadi hingga pesawat ruang angkasa), alat navigasi / GPS, smartphone hingga jam digital.

Sebagian besar kebutuhan juga pemakaian teknologi komputasi (komputer) ini tidak lepas juga dari kebutuhan dan pemakaian pencetak / printer, apapun tujuan dan maksud serta kebutuhannya. Mulai dari mencetak struk belanja, struk ATM, foto, administrasi, surat menyurat (walau sudah ada e-mail, tetap diperlukan), hasil produk kreatif hingga mencetak informasi data penting untuk kebutuhan Industri maupun konstruksi juga kebutuhan lainnya.

Berikut ini time-line singkat perkembangan teknologi dasar pencetak / printer

Dotmatrix

epson dot matrix - lx 310 - archilantis
Source : Epson

Pada tahun 1957, IBM memperkenalkan pertama kali sebuah bentuk teknologi pencetak / printer, secara komersial yaitu teknologi pencetak / printer Dotmatrix.

ibm personal computer printer - dot matrix - archilantis
Source : IBM

Inkjet

printer canon inkjet WG7750FM - archilantis
Source : Canon
printer brother MFC-J3530 Ink - archilantis
Source : Brother

Lalu pada tahun 1976, muncul teknologi pencetak / printer Inkjet. Namun teknologi ini baru diperkenalkan pada sekitar tahun 1984 dan dipakai oleh masyarakat luas sekitar pada tahun 1988. Printer jenis ini mengambil alih posisi dan menggantikan teknologi Dotmatrix.

Laser Jet

Printer dengan kecepatan tinggi pertama kali di kembangkan oleh Remington-Rand pada tahun 1953, yang digunakan di UNIVAC computer. Lalu, Chester Carlson memperkenalkan proses cetak basah yang disebut Electrophotography pada tahun 1958, yang kemudian hari dinamakan Xerox (yang kemudian menjadi merek teknologi mesin pencetak), dan kemudian berkembang menjadi penemuan teknologi Printer Laser.

Mulai tahun 1969, Printer Laser dinamakan EARS, dikembangkan di Xerox Palo Alto Research Center, dan selesai pada bulan November tahun 1971.

xerox 9700 - IBM 3800 - archilantis
Source : Leisure Office

Tenaga ahli Xerox, Gary Starkweather mengadopsi teknologi copy Xerox menjadi Printer Laser. Produk printer laser pertama Xerox dengan teknologi xerographic laser Xerox-9700 yang dirilis pada tahun 1977.

IBM memulai teknologi system printer kecepatan tinggi ini pada tahun 1976, pertama dipasang pada kantor pusat akunting di F.W. Woolworth’s North American data Center di Milwaukee, Winconsin, pada produk pertamanya IBM 3800, mesin pencetak dari IBM ini mengkombinasikan teknologi laser dan electrophotography.

printer hp laserjet 4 - archilantis
Source : Google

Hewlett-Packard (HP) menggunakan printer kecepatan tinggi ini pada tahun 1992, dengan memperkenalkan LaserJet 4 yang terkenal, menggunakan resolusi 600 x 600 dot per inch (dpi).

Ketiga teknologi di atas adalah pondasi utama perkembangan alat pencetak / printer modern hingga saat ini, yang masih digunakan dan juga dikembangkan terus teknologinya untuk diaplikasikan ke berbagai macam bidang dan kegiatan, termasuk juga untuk sektor konstruksi khususnya BIM.

Kemudian, ada lagi teknologi pencetak / printer terbaru yaitu 3D printer, apakah 3D Printer itu?

Sebelum kita membahas dan kupas lebih jauh tentang printer tiga dimensi (3D), jangan sampai terlupa bahwa ada jenis pencetak / printer yang seringkali digunakan baik itu di sektor desain dan konstruksi maupun sektor Industri desain dan manufaktur, juga desain grafis yaitu Plotter.

Apa itu Plotter ?

Plotter sesungguhnya adalah juga pencetak / printer yang menghasilkan gambar grafik vektor dan menggambar garis di atas kertas menggunakan pena.

Di masa lalu, Plotter ini digunakan dalam aplikasi seperti CAD (Computer Aided Design) karena mereka mampu menghasilkan gambar garis yang jauh lebih cepat dan berkualitas lebih tinggi dari pada printer konvensional kontemporer dengan teknologi yang disebutkan di atas, dan Plotter desktop kecil sering digunakan untuk bisnis grafik.

Adapun jenis Plotter adalah sebagai berikut :

  • Plotter Thermal
    Plotter ini menggunakan suatu pin yang dipanaskan secara elektronis, kemudian pin itu dilewatkan pada jenis media yang peka terhadap panas, sehingga terbentuk gambar. Plotter thermal dapat digunakan pada kertas maupun film buram
  • Plotter Pemotong
    Plotter pemotong berfungsi untuk memotong vinyl, karet, gabus, dll. Biasa digunakan pada industri sepatu atau industri pakaian, membuat pola sekaligus memotongnya. Pemanfaatannya dapat digunakan pada industri sepatu atau industri pakaian, untuk memotong pola atau bahan sekaligus.
  • Plotter Format Lebar
    Plotter format lebar biasanya digunakan oleh perusahaan grafis karena mampu membuat cetakan berwarna yang sangat lebar. Banyak dipakai oleh seniman grafis. Teknologi yang digunakan dapat menyerupai printer inkjet ataupun plotter thermal.

Meskipun mereka coba mempertahankan ceruk yang tidak besar untuk menghasilkan gambar yang memiliki format yang sangat besar selama bertahun-tahun, Plotter sekarang sebagian besar telah mulai tergantikan oleh printer konvensional format lebar yang menggunakan teknologi inkJet, seperti Epson SureColour juga stylus pro series dan Hewlet Packard Design-Jet series maupun Fuji-Xerox dan lain sebagainya.

Epson SureColor T5470 - archilantis - komunitas bim indonesia

Printer 3D / 3 Dimensi

Pro2 Plus 3D printer - aca apac - archilantis
Source : ACA APAC

3D printing atau Printer 3D adalah merupakan salah satu bagian dari Additive Manufacturing. Mesin 3D printer merupakan alat untuk membuat benda tiga dimensi dari file digital. Penciptaan objek cetak 3D dicapai menggunakan proses aditif.

Dalam proses pembuatan secara aditif, sebuah objek dibuat dengan meletakkan lapisan tipis secara berurutan sampai objek terbentuk sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Masing-masing lapisan ini dapat dilihat sebagai potongan melintang horizontal yang diiris tipis tipis dari objek yang akhirnya membentuk suatu benda 3 dimensi.

Proses 3D printing adalah kebalikan dari manufaktur subtraktif yang biasanya dilihat pada mesin CNC atau mesin bubut yang mengikis / membentuk logam sampai ke bentuk yang diinginkan. 3D printer memungkinkan kita menghasilkan bentuk yang kompleks dengan menggunakan lebih sedikit bahan daripada metode pembuatan tradisional seperti di atas.

Proses 3D printing dimulai dengan model 3D. Kita dapat mengcreatenya sendiri atau mengunduhnya dari Internet (contoh: BIM object). Saat membuatnya sendiri, kita dapat memilih untuk menggunakan scanner 3D, aplikasi, perangkat scan atau dapat menggunakan software desain 3D (Salah satunya BIM platform yang kita gunakan).

Lalu, bagaimana sejarah tentang 3D printer ini? Kita kupas dalam bentuk Time-line sejarah perkembangan pencetak / printer 3D.

Dimulai pada Medio tahun 1970-an sampai sekarang. Kita bagi dan rangkum dalam bagian per-dekade perkembangan, sebagai berikut :

Tahun 1970-an

Pada tahun 1974, David E. H. Jones menjabarkan konsep pencetakan 3D di kolom regulernya Ariadne dalam jurnal New Scientist.

Tahun 1980-an

Peralatan dan bahan pembuatan aditif awal dikembangkan pada 1980-an.

Pada tahun 1981, Hideo Kodama dari Nagoya Municipal Industrial Research Institute menemukan dua metode aditif untuk membuat model plastik tiga dimensi dengan polimer termoset pengerasan foto, di mana area paparan UV dikendalikan oleh pola topeng atau pemancar serat pemindaian.

Pada 2 Juli 1984, pengusaha Amerika Bill Masters mengajukan paten untuk Proses dan Sistem Manufaktur Otomatis Komputernya (US $ 4665492). Pengarsipan ini tercatat di USPTO sebagai paten pencetakan 3D pertama dalam sejarah; itu adalah yang pertama dari tiga paten milik Masters yang meletakkan dasar untuk sistem pencetakan 3D yang digunakan saat ini.

Pada 16 Juli 1984, Alain Le Mauthé, Olivier de Witte, dan Jean Claude André mengajukan paten mereka untuk proses Stereolithografi.

Penerapan penemu Prancis ditinggalkan oleh Perusahaan Listrik Perancis Umum (sekarang Alcatel-Alsthom) dan CILAS (Konsorsium Laser). Alasan yang diklaim adalah “karena kurangnya perspektif bisnis”.

Tiga minggu kemudian pada tahun 1984, Chuck Hull dari 3D Systems Corporation, mengajukan patennya sendiri untuk sistem fabrikasi Stereolithografi, dimana lapisan ditambahkan dengan menyembuhkan Photopolymer dengan laser cahaya ultraviolet.

Hull mendefinisikan proses sebagai “sistem untuk menghasilkan objek tiga dimensi dengan menciptakan pola penampang objek yang akan dibentuk,”.

Kontribusi Hull adalah format file STL (Stereolithography) dan strategi mengiris dan mengisi digital yang umum untuk banyak proses saat ini. Pada tahun 1986, Charles “Chuck” Hull diberikan hak paten untuk sistemnya, dan perusahaannya, 3D Systems Corporation merilis printer 3D komersial pertama, SLA-1.

Teknologi yang digunakan oleh sebagian besar printer 3D hingga saat ini – terutama model yang berorientasi hobi dan konsumen – adalah pemodelan deposisi yang menyatu, aplikasi khusus ekstrusi plastik, yang dikembangkan pada 1988 oleh S. Scott Crump dan dikomersialkan oleh perusahaannya Stratasys yang memasarkan FDM pertamanya mesin pada tahun 1992.

Tahun 1990-an

Proses AM (Additive Manufacturing) untuk sintering atau peleburan logam (seperti sintering laser selektif, sintering laser logam langsung dan peleburan laser selektif) biasanya dikenal dengan namanya masing-masing pada 1980-an dan 1990-an.

Pada saat itu, semua pengerjaan logam dilakukan oleh proses yang sekarang disebut non-aditif (casting, fabrikasi, stamping, dan permesinan); meskipun banyak otomatisasi diterapkan pada teknologi tersebut (seperti dengan pengelasan robot dan CNC), gagasan tentang alat atau kepala bergerak melalui amplop kerja 3D yang mengubah massa bahan mentah menjadi bentuk yang diinginkan dengan lajur pahat hanya dikaitkan dengan pengerjaan logam saja dengan proses yang menghilangkan logam (daripada menambahkannya), seperti penggilingan CNC, CNC EDM, dan banyak lainnya. Tetapi teknik otomatis yang menambahkan logam, yang nantinya akan disebut manufaktur aditif, mulai menentang asumsi itu.

Pada pertengahan 1990-an, teknik baru untuk deposisi bahan dikembangkan di Stanford dan Carnegie Mellon University, termasuk microcasting dan bahan disemprotkan. Materi pengorbanan (yang terbuang) dan pendukung juga menjadi lebih umum, memungkinkan geometri objek baru.

Istilah pencetakan 3D pada awalnya mengacu pada proses bubuk / powdering menggunakan kepala cetak inkjet standar dan kustom, dikembangkan di MIT oleh Emanuel Sachs pada tahun 1993 dan dikomersialkan oleh Solingen Technologies, Extrude Hone Corporation, dan Z Corporation.

Tahun 1993 juga menyaksikan dimulainya perusahaan bernama Solidscape, memperkenalkan sistem fabrikasi jet polimer berpresisi tinggi dengan struktur pendukung yang larut, (dikategorikan sebagai teknik “dot-on-dot”).

Pada 1995 Fraunhofer Society mengembangkan proses peleburan laser selektif.

Tahun 2000-an

Paten proses pencetakan Fused Deposition Modeling (FDM) kedaluwarsa pada tahun 2009.

Tahun 2010-an

Ketika berbagai proses aditif matang, menjadi jelas bahwa segera pemindahan logam tidak lagi menjadi satu-satunya proses pengerjaan logam yang dilakukan melalui alat atau kepala yang bergerak melalui amplop kerja 3D, mengubah massa bahan baku menjadi lapisan demi lapisan bentuk yang diinginkan.

2010-an adalah dekade pertama di mana bagian-bagian penggunaan akhir logam seperti kurung mesin dan kacang-kacangan besar, akan ditanam (baik sebelum atau bukannya permesinan) dalam produksi pekerjaan daripada secara wajib dikerjakan dari stock bar atau plat.

Masih menjadi kasus bahwa casting, fabrikasi, stamping, dan permesinan lebih lazim daripada Additive manufacturing / AM dalam pengerjaan logam, tetapi AM sekarang mulai membuat terobosan yang signifikan, dan dengan keunggulan desain untuk manufaktur aditif, jelas bagi para insinyur bahwa banyak lebih banyak yang akan datang.

Seiring perkembangan teknologi, beberapa penulis mulai berspekulasi bahwa pencetakan 3D dapat membantu dalam pembangunan berkelanjutan di negara berkembang.

Pada 2012, Filabot mengembangkan sistem untuk menutup loop, dengan plastik dan memungkinkan setiap printer 3D FDM atau FFF dapat mencetak dengan berbagai plastik yang lebih luas. Lalu, pada tahun 2014, Benjamin S. Cook dan Manos M. Tentzeris mendemonstrasikan platform multi-bahan elektronik tercetak multi-bahan cetak terintegrasi (VIPRE) pertama yang memungkinkan pencetakan 3D elektronik fungsional yang beroperasi hingga 40 GHz.

Istilah “pencetakan 3D” awalnya mengacu pada proses yang menyimpan bahan pengikat ke Bed Powder dengan kepala printer inkjet lapis demi lapis.Baru-baru ini, vernakular populer telah mulai menggunakan istilah ini untuk mencakup berbagai teknik pembuatan aditif yang lebih luas seperti pembuatan aditif berkas elektron dan peleburan laser selektif.

Amerika Serikat dan standar teknis global menggunakan istilah manufaktur aditif resmi untuk pengertian yang lebih luas ini.

Perkembangan 3D printing ini ternyata juga dimanfaatkan dalam sektor konstruksi terutama dalam pemanfaatan teknologi BIM.

proses desain dan printer 3d dalam dunia konstruksi - archilantis

Seperti kita lihat diagram di atas, ini adalah salah satu contoh aplikasi dan implementasi serta manfaat penggunaan teknologi 3D printer untuk proses BIM. Bahkan tidak hanya koordinasi, tapi prinsip 3D printer sudah dapat digunakan untuk mewujudkan desain menjadi bentuk nyata sebagaimana diagram di bawah.

Microsoft Word - Sanjayan_565206_full MS-chaps 1
Source : Google

Juga sudah ada project prototype yang menggunakan printer 3D ini dari Proses BIM menjadi bentuk bangunan real.

3d printing concrete - archilantis - milestone project
Source : 3D Print

Yaitu Rumah Tinggal yang dibuat di Belanda atas prakarsa Universitas Teknologi Eindhoven dengan project Milestone.

Project Yayasan Dubai Masa Depan, juga membuat kantor dengan menggunakan sistem pracetak menggunakan printer 3D, berlokasi di Dubai.

dubai - harvard business school - archilantis -
Source : HBS

Warga China WinSun, memulai membangun beberapa rumah menggunakan 3D printer, dan juga memproduksi elemen-elemen rumah tersebut di luar site.

winsun 3d printer and bim - archilantis

Pada tahun 2017, ApisCor melakukan pekerjaan 3D printing keseluruhan bagian rumah tepat di site, di Rusia. Terbaru, ApisCor juga melakukan terobosan dan memecahkan rekor di Dubai dengan membangun bangunan dengan tinggi dinding lebih dari 9,5 meter dengan menggunakan 3D printer on-site. Dubai juga mendeklarasikan bahwa lebih dari 20% bangunan mereka akan dibangun dengan teknologi ini. Keren Kan?

01 apis cor 3d printed dubai - archilantis 02 apis cor 3d printed dubai - archilantis

Pada tahun 2019, 3D Printhuset memproduksi rumah di eropa pertama kalinya di Eropa dan Denmark, langsung di site di Kota Copenhagen (The BOD), menggunakan beton dan 3D printer dengan lengan robot.

Lebih jauh lagi, pada tahun 2017, Royal BAM group dan Peneliti dari TU Eindhoven, untuk pertama kalinya di dunia, memasang jembatan yang dibuat menggunakan 3D printer di Belanda.

royal bam 3d printed - archilantis

Kesimpulan

Jadi, melihat paparan dan ulasan diatas ternyata teknologi printer / pencetak, berkembang luar biasa seiring dengan perkembangan teknologi dan juga perkembangan jaman. Dengan kombinasi teknologi BIM, peruntukan serta kebutuhannya makin tidak terbatas, mulai dari mencetak gambar desain bahkan sampai bisa dipakai untuk mewujudkan bentuknya dalam bentuk nyata.

Nanti in sya Allaah di artikel lain setelah artikel printer BIM ini, kita bahas sedikit tentang keuntungan dan alur kerja BIM menggunakan 3D printer, baik untuk koordinasi ataupun untuk membangun.

Nah Seruuu kann?
Soo.. keep healthy and keep on distance, work from home and always happy.. happy BIMers..
(Pad-1)

Tags

Related Articles

Back to top button
Close
Close