Informasi & Berita

Pandemi COVID-19 dan BIM Cloud

Pandemi COVID-19 dan BIM Cloud

Pandemi COVID-19 | Indonesia saat ini sedang dilanda wabah penyakit yang sudah menjadi Pandemi di seluruh dunia dan Indonesia menjadi salah satu yang memiliki rasio kematian tertinggi hingga mencapai 9% dari total penderita yang positif mengidap virus Covid-19 ini.

Covid-19 adalah virus jenis baru dari virus yang bernama CORONA. Virus ini adalah virus Sindrom Infeksi Saluran Pernafasan Akut COV-2, atau SARS-COV2. Kemudian oleh WHO diberi nama CoVid-19 untuk mencegah penamaan yang menunjukkan wilayah dan area serta bangsa tertentu.

Virus ini pertama kali merebak dan menjadi epidemik di China Daratan atau Republik Rakyat Tiongkok dan teridentifikasi pertama kali di Kota Wuhan, di Propinsi Hubei.

Gejala atau simptoms yang ditunjukkan oleh virus ini ketika sudah menginfeksi manusia diantaranya adalah, demam, batuk, sesak napas, sakit kepala, tenggorokan kering, nyeri sendi, muntah, diare, dan beberapa gejala lainnya (sumber : Wikipedia).

Untuk melihat index artikel ini, silahkan klik tombol kotak biru di sebelah kiri dan pilih index yang diinginkan (hanya untuk pengguna desktop)

Dan data terakhir ketika spesial report ini ditulis jumlah yang positif mengidap / terinfeksi virus ini di Indonesia secara nasional berada pada angka 450 orang positif, 392 orang dirawat, 20 sembuh, dan 38 orang meninggal dunia (data per 21 Maret 2020 dari corona.jakarta.go.id)

Sebuah jumlah yang masif sekali sejak diumumkan pertamakali kasus positif terinfeksi virus ini. Peningkatannya pun hampir eksponensial, tidak gradual.

Transmisi dan Penyebaran Virus

Lalu, bagaimana dengan pola penyebarannya, dan bagaimana virus ini ditransmisikan sehingga dapat menyebar dan menginfeksi dari satu manusia ke manusia lainnya?

Menurut WHO (who.int/indonesia), COVID-19 ini menyebar dari orang ke orang melalui percikan atau droplet yang dihasilkan oleh orang yang terinfeksi ketika berbicara, batuk, ataupun bersin. Percikan ini dapat jatuh ke hidung ataupun mulut lawan bicaranya.

Karena “berat”, maka percikan itu tidak bisa “terbang” jauh, diperkirakan sekitar maksimal satu meter. Kemudian jatuh mengenai benda lainnya, sehingga sebagian besar penyebarannya diakibatkan oleh transmisi jarak dekat. Dan belum diketahui dengan jelas berapa lama virus dapat bertahan hidup di atas benda-benda. 

Beberapa penelitian terbaru, mendeteksi pada beberapa kasus dapat bertahan lama hampir satu bulan, dan secara teoritis dapat bertahan pula dalam bentuk aerosol, sehingga bisa ditransmisikan lewat udara di sistem udara tertutup. Namun ini masih penelitian awal, masih terus dikaji, sehingga mendapatkan data yang akurat dapat dipertanggungjawabkan.

Kemudian, Bagaimana cara untuk mencegah / memotong penyebaran virus ini, agar jumlah penderitanya tidak terus meningkat dan memberi waktu para ilmuwan, dokter dan semua pihak mampu menyembuhkan, juga menemukan obat serta standar pengobatan terbaik serta menemukan vaksin pencegahnya?

Cara Pencegahan Menyebarnya COVID-19 

Setelah mengetahui tentang bagaimana cara COVID-19 tertransmisikan dan tersebar yang telah dijelaskan sebelumnya di atas.

Cara yang paling tepat mencegah adalah dengan menghindari kontak jarak dekat dengan orang yang memiliki gejala dari Covid-19 ini. Baik itu berbicara dengan jarak dekat, maupun bersalaman, mencium dan atau berpelukan. Lalu, mengatur jarak(setidaknya 1 meter), dari orang yang tidak sehat (sedang sakit).

Pengaturan jarak ini sering disebut sebagai Sosial Distance.

social distance

Selain Social Distance, ada beberapa lagi yang disarankan untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini secara masif yang diperkenalkan dan harus dipatuhi juga untuk dijalankan. 

Diantaranya WFH(Work From Home), Self Isolation, dan mencegah Import Case. Sehingga kurva jumlah penularan dan penyebarannya dapat lebih datar tidak menjadi eksponensial penambahannya, serta dapat “membeli waktu” agar para Profesional di bidang kesehatan menjalankan tugas dan pengabdiannya dengan optimal dan terukur juga tidak kewalahan.

Lalu, apakah itu dan bagaimana penerapannya?

Social Distance, Work From Home, Import Case, Self Isolation, Lock Down

Mari kita coba kupas apa itu Social Distance, Work From Home, dan Import Case. Dan juga bagaimana penerapannya satu demi satu..

Social Distance

social distance - archilantisAdalah serangkaian serangkaian tindakan pengendalian infeksi non-farmasi yang dimaksudkan untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit menular. 

Tujuan dari pembatasan sosial adalah untuk mengurangi kemungkinan kontak antara orang terinfeksi dan orang lain yang tidak terinfeksi, sehingga dapat meminimalkan penularan penyakit, morbiditas, dan terutama, kematian.

Pembatasan sosial paling efektif dilakukan ketika infeksi dapat ditularkan melalui kontak percikan atau droplet (batuk atau bersin); kontak fisik langsung, termasuk kontak seksual; kontak fisik tidak langsung (misalnya dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi seperti Vomit); atau transmisi melalui udara (jika mikroorganisme / virus dapat bertahan hidup di udara untuk waktu yang lama).

Work From Home (WFH)

work from homeWork From Home menjadi tren ketika pandemi COVID-19 merebak. Terutama di Indonesia. Work From Home, sebagaimana arti dalam Bahasa Indonesianya yang berarti Bekerja dari / di Rumah. Dan juga bisa disebut Remote Worker atau pekerja dari rumah, istilah ini juga menjadi tren di kalangan para pekerja milenial.

Jadi mereka mengerjakan semua pekerjaan mereka(yang biasa dilakukan di kantor), termasuk rapat, koordinasi dan konsultasi secara remote dari rumah, terhubung langsung dengan semua perangkat kantor.

Work From Home ini juga bagian dari strategi Social Distance, yang mencegah interaksi jarak dekat para pekerja dan memutus rantai penyebaran Virus.

Self Isolation

do not disturb - self isolationSelf Isolation atau dalam bahasa Indonesia-nya adalah isolasi mandiri, memiliki makna memisahkan secara mandiri orang yang sedang sakit dan mengidap virus / sakit / penyakit yang menular dan berpotensi menularkan virus / penyakit / sakitnya kepada yang sehat.

Menjauh sementara (dalam waktu tertentu, hingga sehat) dari lingkungan orang yang sehat untuk memutus mata rantai penyebaran penyakit itu.

Isolasi itu sendiri bisa dilakukan secara mandiri dan atau oleh pihak medis yang berwenang.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDD), karantina merupakan langkah memisahkan dan membatasi pergerakan orang yang diduga memiliki penyakit menular untuk melihat apakah mereka benar-benar terinfeksi.

Lalu, karantina adalah keadaan atau tempat isolasi bagi seseorang yang mungkin telah bersentuhan dengan penyakit menular. Periode isolasi menurunkan kemungkinan orang dapat menularkan penyakit ke orang lain.

Tak seperti isolasi yang diperuntukkan bagi orang yang telah terinfeksi, karantina tidak hanya diperuntukkan bagi orang sakit saja. Orang yang tampak sehat dapat menyebarkan patogen tanpa pernah tahu bahwa mereka memilikinya. Inilah yang membuat karantina penting dilakukan.

Nahh.. ketika pandemi Covid-19 saat ini, orang-orang yang pernah “bersinggungan” atau berinteraksi dengan orang yang positif terinfeksi COVID-19 ini dan baru pulang dari wilayah yang terpapar virus ini tapi tidak(belum) menunjukkan gejala awal, disebut ODP (Orang Dalam Pengawasan) dan yang sedang sakit (menunjukkan gejala awal) tapi hasil Lab nya belum jelas(apakah positif atau negatif) disebut suspect atau PDP (Pasien Dalam Pengawasan), maka mereka harus diisolasi baik mandiri maupun oleh pihak medis yang berwenang sesuai dengan keadaan sang pasien.

Import Case

import caseApa itu Import Case?

Import Case, adalah kasus positif yang diidap oleh orang yang datang dari luar wilayah, dan Kemudian sakitnya bukan disebarkan oleh transmisi / penyebaran lokal di wilayah yang terkena wabah pandemik ini.

Dan untuk mencegah ini, disetiap pintu masuk harus ada screening ketat agar tidak masuk import case yang akan menyulitkan, karena bisa jadi sakit/virus yang dibawa telah mengalami mutasi, sehingga menambah beban pelayanan kesehatan.

 

Lockdown

lockdownLalu, apa itu Lockdown

Dalam istilah bahasa Inggris, lockdown atau kuncian merupakan situasi di mana orang tidak diizinkan masuk atau meninggalkan gedung atau area secara bebas karena sebuah keadaan darurat.

Lockdown merupakan protokol darurat yang mencegah orang meninggalkan suatu area.

Protokol ini biasanya hanya bisa diajukan oleh seseorang dalam posisi otoritas seperti pemimpin negara atau daerah.

Dalam kasus COVID-19, lock down dilakukan untuk mengunci akses masuk dan keluar sebuah daerah atau negara untuk mencegah penyebaran COVID-19. Lockdown mengharuskan sekolah, tempat umum, transportasi umum, bahkan industri ditangguhkan sementara.

Protokol lockdown juga meminta masyarakat untuk tetap berada di rumah dan membatasi segala aktivitas di ruang publik. 

Upaya lockdown akibat COVID-19 pertama dilakukan oleh pemerintahan China, khususnya di Provinsi Hubei.

Lockdown juga dilakukan di Korea Selatan tepatnya di Daegu. Negara lain juga menyusul penerapan kebijakan lock down ini seperti di Italia, Denmark, Filipina, dan Irlandia, Malaysia, Singapore dan juga beberapa negara bagian di Amerika, juga negara-negara Amerika Latin, Spanyol dan negara lainnya. Indonesia?

Pandemi COVID-19 dan BIM 

Sebagai Profesional dan warga negara yang baik, kita tentunya harus mendukung kebijakan pemerintah dalam memerangi penyebaran Virus CoVid-19 ini.

Lalu bagaimana solusi ketika harus melakukan Social Distancing, Work From Home, Self Isolation dan Lockdown. Sedangkan dalam dunia Konstruksi Kita tidak dapat bekerja sendiri.

bim cloud - archilantisTenang, don’t worry be happy. Santai kayak di Pantai..in sya Allaah Kita tidak akan mati Gaya kalau menggunakan BIM. Kenapa?

Karena, banyak platform BIM sejak awal menawarkan konsep kolaborasi dan team secara remote, baik menggunakan dedicated Server maupun menggunakan Cloud sebagai basenya.

Salah satunya adalah Graphisoft, melalui produknya yaitu Archicad, yang menawarkan konsep kerja jarak jauh menggunakan platform bernama BIM CLOUD.

Baca juga : Work Smarter with BIM Collaboration

Apa itu BIM CLOUD ?

bimcloud vs covid-19 - archilantis - corona virus - apa itu bimcloud - komunitas bim indonesia - bim archicad - graphisoftBim Cloud adalah, sebuah platform untuk memungkinkan kerja tim jarak jauh yang real-time dan aman antar arsitek jugs engineer, terlepas dari ukuran proyek desain, lokasi kantor, atau kecepatan koneksi internet. Sebelumnya, BIM CLOUD ini dikenal dengan nama BIM SERVER.

Keuntungan menggunakan BIM CLOUD adalah tidak memerlukan keterampilan IT yang besar, anggota tim dapat memesan, mendapat bagian dari proyek sesuai dengan keahliannya dan atau bekerja di lantai, bagian, ketinggian atau tata letak tertentu yang disepakati.

Reservasi elemen otomatis dan real-time membantu pekerjaan sehari-hari dengan menyediakan akses eksklusif ke elemen desain tertentu tanpa kesulitan, sementara BIM CLOUD memastikan integritas database proyek seamless di Back Groundnya.

Kemudian, BIM CLOUD dapat diandalkan untuk banyak team, serta project apapun dan berapapun skala projectnya. Lalu, mendukung pengiriman pesan dan chat real time untuk memisahkan kolaborasi dan koordinasi. Bekerja di network/jaringan apapun, dan bahkan bisa beroperasi di mobile device dari remote area tanpa koneksi internet, begitu mendapatkan jaringan dan online, maka dia tidak hanya membagikan hasil kerjanya terakhir, tapi sang anggota tim mendapatkan hasil perubahan terakhir dan juga update terakhir dari anggota tim lainnya.

Low maintenance, alias tidak membuat repot. Dan masih banyak lagi keunggulan lainnya.

Selain BIM CLOUD, juga ada platform lain untuk kolaborasi dan koordinasi secara remote interdisiplin. Seperti Solibri, Bexel, Blue Beam Dan masih banyak lainnya.

Jadi, masih mati gaya? Jangan..!! Pakai BIM, it solves..

Have lovely BIM use..and stay at home yaa..
(Pad-1)

Tags

Related Articles

Back to top button
Close
Close