Melawan Pemanasan Global dengan Penerapan Teknologi BIM pada Pembangunan Infrastruktur

Melawan Pemanasan Global dengan Penerapan Teknologi BIM pada Pembangunan Infrastruktur
Rezza Munawir, ST, MT, MMG

oleh :
Rezza Munawir, ST, MT, MMG
Pembina Jasa Konstruksi Ahli Muda
Direktorat Kelembagaan dan Sumber Daya Konstruksi
Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Penerapan Teknologi BIM | Pemanasan global merupakan fenomena alam yang berdampak pada kenaikan suhu bumi. Akibatnya, terjadinya perubahan alam dan kehidupan manusia, seperti kualitas dan kuantitas air, habitat, hutan, kesehatan, lahan pertanian dan ekosistem wilayah pesisir (ditjenppi.menlhk.go.id).

Apakah pembangunan infrastruktur berkontribusi terhadap krisis perubahan iklim? Berdasarkan data dari World Green Building Council diketahui bahwa bangunan gedung setidaknya menyumbangkan 33% emisi CO2, mengkonsumsi 17% air bersih, 25% produk kayu, 30-40% penggunaan bahan mentah dan 40-50% penggunaan energi untuk pembangunan dan operasionalnya.

Gedung Kantor Kementerian PUPR Menerapkan Konsep Green Building
Gedung Kantor Kementerian PUPR Menerapkan Konsep Green Building

Persentase terbesar pemanfaatan energi pada bangunan adalah pada sektor operasional, yang secara spesifik digunakan untuk pemanasan, pendinginan maupun pencahayaan bangunan (greenbuilding.jakarta.go.id).

Untuk mewujudkan pembangunan infrastruktur ramah lingkungan, Kementerian PUPR menerbitkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2021 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Konstruksi Berkelanjutan.

Pedoman Penyelenggaraan Konstruksi Berkelanjutan ini dibangun di atas 3 pilar, salah satu diantaranya adalah penyelenggaraan jasa konstruksi untuk mendirikan bangunan gedung dan/atau bangunan sipil harus menerapkan konstruksi berkelanjutan yang menjaga pelestarian lingkungan. 

Pelestarian lingkungan yang dimaksud merupakan penyelenggaraan konstruksi yang mempertahankan kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, memanfaatkan sumber daya secara efisien, dan meminimalkan dampak lingkungan. Selanjutnya, penyelenggaraan konstruksi berkelanjutan dilakukan secara terpadu dan efisien dengan memperhatikan salah satunya penggunaan teknologi pemodelan informasi bangunan (building information modelling).

Di dalam lampiran Permen PUPR Nomor 9 Tahun 2021 butir 10 disebutkan pengertian BIM adalah representasi digital dari karakter fisik dan karakter fungsional pada suatu bangunan, dimana di dalamnya terkandung semua informasi mengenai elemen-elemen bangunan tersebut yang digunakan sebagai basis pengambilan keputusan dalam proses perencanaan, pelaksanaan konstruksi dan masa operasi bangunan serta masa pembongkaran dan pembangunan kembali yang membentuk aset digital yang merupakan suatu kembaran dari kondisi fisik sesungguhnya (digital twin).

Salah satu prinsip penerapan BIM adalah Keberlanjutan, yaitu: model informasi yang dihasilkan digunakan secara berkelanjutan sejak tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap operasi dan pemeliharaan termasuk renovasi, pembongkaran dan pekerjaan konstruksi bangunan baru di kemudian hari.

Dalam implementasinya, penggunaan teknologi BIM mampu membuat industri bangunan yang lebih efisien dalam penggunaan energi serta fokus pada penghematan biaya dan waktu, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Karena, pemodelan bangunan dengan teknologi BIM dapat dilakukan clash detection serta analisis energi, efisiensi material, dan analisis keberlanjutan lainnya.

Dikutip dari jurnal Creative Construction Conference 2016, berjudul “Enhancing Facility Management through BIM 6D” oleh Nicał dan Wodyński, disebutkan bahwa UK Green Building Council memperingatkan bahwa operasi gedung menyumbang sekitar 40% dari energi global konsumsi dan 30% emisi gas rumah kaca karbon dan dengan sistem berbasis BIM berkelanjutan, memungkinkan dilakukannya simulasi dan evaluasi energi kompleks secara efisien dengan mengintegrasikan informasi terkait energi di seluruh siklus hidup aset bangunan. 

Dengan teknologi BIM, pemodelan untuk BIM model dapat dilakukan secara terperinci dan terukur, misalnya pemilihan penggunaan material konstruksi yang telah mendapatkan sertifikat industri hijau atau sertifikat kesesuaian dengan Standar Nasional Indonesia dari Kementerian Perindustrian, untuk menghindari penggunaan material konstruksi yang tidak bermutu atau berbahaya bagi lingkungan dan/atau kesehatan masyarakat. 

Selanjutnya, penggunaan platform Common Data Environment (CDE), memungkinkan seluruh pihak terkait dalam proyek dapat berkomunikasi, berkolaborasi, dan melakukan pertukaran data dan informasi melalui software tertentu yang mendukung ekosistem BIM, sehingga setiap pihak dalam tim proyek tidak perlu bertatap muka.

Tentu saja hal ini berdampak positif karena mengurangi lalu lintas pergerakan manusia dengan kendaraan yang menggunakan bahan bakar fosil yang dapat mencemari udara. Bahkan, penggunaan teknologi BIM dapat mengurangi penggunaan kertas karena semua dokumen dalam bentuk digital.

Intinya adalah, secara pertimbangan lingkungan, BIM dapat membantu mengurangi jejak karbon bangunan dan mengoptimalkan konsumsi energi bangunan. Secara ekonomi, BIM juga terbukti mengurangi jumlah energi yang dikonsumsi bangunan dan biaya membangun dan memelihara struktur hingga 20%. Selain itu, penggunaan teknologi BIM dapat membantu penggunanya memvisualisasikan proyek konstruksi pada setiap fase dalam proses konstruksi.

Teknologi BIM memungkinkan penggunanya untuk meningkatkan efisiensi energi dalam proses konstruksi karena dapat melakukan simulasi penggunaan energi secara digital untuk mendapatkan efisiensi energi yang optimal (Michaela Wong dalam esub.com, 2019).

Oleh karenanya, dengan berbagai penjelasan di atas, penggunaan teknologi BIM amat memungkinkan penggunanya, dalam hal ini semua pihak yang terlibat dalam industri konstruksi, dapat mengoptimalkan penggunaan energi pada BIM model (desain model bangunan), yang selain memberikan dampak positif secara ekonomi, bahkan lebih dari itu, dapat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat dengan semakin banyaknya pembangunan infrastruktur yang mempertimbangkan kelestarian lingkungan. 

Untuk melaksanakan pembinaan penerapan BIM secara konsisten di Kementerian PUPR, berdasarkan Peraturan Menteri PUPR Nomor 13 Tahun 2020, Direktorat Jenderal Bina Konstruksi melalui Direktorat Kelembagaan dan Sumber Daya Konstruksi mendapatkan mandat untuk melakukan pembinaan di bidang teknologi konstruksi, termasuk diantaranya melakukan penyebarluasan informasi teknologi BIM melalui penyelenggaraan seminar dan pelatihan teknologi BIM kepada masyarakat jasa konstruksi, baik secara tatap muka maupun jarak jauh melalui Balai-balai Jasa Konstruksi Wilayah.