BIM for Owner

bim for owner - bim untuk owner - archilantis - komunitas open bim

BIM for Owner

BIM for Owner / BIM untuk pemberi pekerjaan | Selama ini ketika kita membicarakan BIM, lebih banyak dilihat dari kacamata konsultan, kontraktor, vendors dan MK (Manajemen Konstruksi) yang di dalamnya terdapat arsitek, engineer, supplier, desainer dan juga bidang lainnya, baik itu mengenai manfaat, kegunaan serta efisiensi juga benefit yang didapatkan ketika menerapkan dan mengimplementasikan BIM sehingga project yang dikerjakan menjadi Lean Project.

Bagaimana dengan owner atau pemberi pekerjaan? Apa saja manfaat yang bisa diambil dari penerapan atau implementasi BIM ini di setiap tahapan mulai dari perencanaan dan perancangan, konstruksi pembangunan atau pelaksanaan, operasional dan perawatan juga renovasi dan ekspansi serta pembongkaran untuk kemudian direncanakan kembali ?

Dengan kata lain, bagaimana manfaat yang ditawarkan dari pengimplementasian BIM untuk owner / pemberi pekerjaan, serta kegunaan dan benefit serta efisiensi yang didapatkan oleh owner sepanjang cycle / siklus untuk asset dan project yang mereka miliki ? Mari kita kupas sedikit untuk menambah wawasan kita bersama.

Mengapa Owner Harus Peduli dengan BIM ?

Proses yang Lean dan juga modeling digital sudah mampu merevolusi dunia manufaktur dan juga industri dirgantara. Para pengadopsi awal dari proses produksi dan juga penggunaan alat ini seperti Toyota dan Boeing, telah mencapai sukses dalam meningkatkan efisiensi juga dalam komersialisasinya (Laurenzo 2005).

Para pengadopsi berikutnya atau yang belakangan mengikuti jejak perusahaan besar ini dipaksa untuk mengejar ketinggalan dalam rangka berkompetisi, ditambah lagi mereka tidak memiliki pengalaman yang sama tentang bagaimana proses mengadopsi proses ini sebagaimana yang dimiliki oleh para pengadopsi awal dan mereka masih menghadapi banyak sekali perubahan yang sangat signifikan dalam merubah proses kerja mereka sehingga menjadi tidak mudah seperti Toyota dan Boeing.

Di dunia Konstruksi, dalam hal ini industri AEC (Architecture Engineering and Construction) khususnya di Indonesia sedang mengalami proses dan revolusi yang sama dengan dunia Dirgantara juga manufaktur membutuhkan semua perubahan dari proses juga paradigma yang berubah dari basis dokumentasi 2D dan tahapan delivery process menjadi prototipe digital juga alur kerja yang kolaboratif.

Pondasi dari BIM adalah satu atau lebih model bangunan yang memiliki informasi yang kaya atau diberikan atau ditambah informasi sehingga menjadi kaya informasi sehingga model digital tersebut dapat menjadi prototipe yang dapat dianalisa serta dapat mensimulasikan karakter bangunan (performa bangunan) tersebut ketika sudah beroperasi, apakah sesuai dengan perencanaan juga dapat mensimulasikan bagaimana proses dan tahapan pembangunanannya.

Semua ini menunjukkan bahwa BIM tools mampu secara signifikan memberikan kemampuan melebihi kemampuan CAD konvensional yang ada saat ini dan mampu memberikan kemampuan dalam menyalurkan informasi mengenai desain pada project untuk “tersambung” dengan proses bisnis yang dilakukan oleh owner, diantaranya adalah estimasi, perkiraan penjualan, juga operasional.

Baca juga : Perbedaan BIM dan CAD

Alat-alat ini (BIM tools) mendukung proses yang kolaboratif dibandingkan dengan pendekatan yang terfragmentasi dalam melakukan procurement project.

Kolaborasi ini membangun kepercayaan dan tujuan (goals) yang sama dalam memenuhi dan melayani kebutuhan owner jika dibandingkan dengan hubungan yang kompetitif dimana masing-masing anggota team yang terlibat berjalan masing-masing untuk memaksimalkan tujuan / goal individunya.

Kontras sekali, pada proses berbasis gambar (konvensional), analisa harus dikerjakan sendiri-sendiri secara terpisah dari masing-masing informasi bangunan dan sering membutuhkan banyak duplikasi, membosankan serta rawan melakukan kesalahan ketika melakukan entry data.

Hasilnya adalah kehilangan banyak informasi yang berharga mengenai asset tersebut sepanjang fase dan akan banyak celah / kesempatan untuk kesalahan dan juga kelalaian, sehingga meningkatkan effort untuk memproduksi informasi proyek yang akurat (lihat tabel). Konsekuensinya, beberapa analisis bisa tidak sinkron dengan informasi desain dan membawa kita kepada kesalahan / errors.

Penggunaan data dan Informasi yang rendah kualitasnya dan ditambah oleh banyak team yang terfragmentasi sehingga tidak mudah dikoordinasikan, menyebabkan pengeluaran bagi owner/ Pemilik/Industri pengelolaan bangunan harus merogoh koceknya hingga lebih dari US $15.8 Miliar setiap tahunnya.

Lalu bagaimana di Indonesia? Bisa jadi sama dan bahkan lebih, berikut dengan kekacauan pendokumentasiannya yang sudah menjadi rahasia umum.

Kemudian lebih dari 60% dari proyek-proyek besar gagal mempertemukan antara target biaya dan jadwal, dan lebih dari 30% dari biaya konstruksi adalah biaya pekerjaan ulang atau pekerjaan perbaikan karena kesalahan informasi pada proses konvensional. 55% pekerjaan perawatan lebih kepada pekerjaan reaktif dan tidak terjadwal, juga masih banyak masalah lain yang timbul akibat informasi yang tidak terkoordinasi dengan baik dan juga proyek yang tidak lean.

Dengan menggunakan BIM, sebuah dasar dari proses berbasis model cerdas untuk digunakan mentransformasi bisnis dan juga industri dimana BIM menggunakan model 3D untuk mendapatkan, mengeksplorasi, juga menjaga konsistensi serta mengkoordinasikan data antara perencanaan, desain, pelaksanaan / konstruksi juga operasional.

Selain itu, menggunakan BIM juga menyediakan wawasan mengenai proyek yang lebih besar mengenai biaya, jadwal dan juga constructability-nya, mampu berbagi data serta menggunakan data yang konsisten, baik itu ketika ada di balik meja maupun di lapangan, yang mampu juga kemudian mengaktifkan respon cepat untuk melakukan perubahan dan berubah dengan proses yang cepat dan akurat.

Apa Saja yang ditawarkan oleh BIM untuk Owner ?

BIM - transparency quality efficiency - ArchilantisDengan menggunakan BIM, langsung dan tidak langsung membuat owner / pemilik pekerjaan akan semakin berdaya dan memiliki banyak keuntungan, diantaranya adalah :

  • Owner secara otomatis akan mudah untuk meningkatkan kualitas bangunan / asset mereka yang tentunya secara signifikan mengurangi biaya dari siklus hidup bangunan.
  • Lebih memahami dan mengerti tentang desain bangunan baik proses maupun progres dari awal proses sampai akhir.
  • Mengoptimalisasikan efisiensi dari operasional.
  • Meningkatkan tingkat keterisian dan penggunaan.

Selain itu, berdasarkan penelitian dari beberapa sumber yang dihimpun ketika menggunakan atau mengimplementasikan BIM pada proyek-proyek mereka, mereka mendapatkan :

  • 61% peningkatan efisiensi, sehingga mampu mengurangi tingkat kesalahan serta kelalaian pada dokumentasi.
  • Terjadi pengurangan pekerjaan yang diulangi / perbaikan pekerjaan sampai dengan 36%.
  • Pengeluaran biaya konstruksi juga mengalami efisiensi hingga 30%.
  • Durasi project juga mengalami efisiensi hingga 22%.
  • 17% memiliki sedikit sekali klaim / litigasi.

Bagaimana cara BIM mampu menghemat waktu dan uang sepanjang siklus bangunan ?

BIM sebagaimana disinggung dan dijabarkan di atas menawarkan kemudahan serta efisiensi serta kolaborasi yang memberikan banyak keuntungan bagi pemilik pekerjaan / owner baik ketika fase perencanaan maupun ketika operasional, dengan kata lain sepanjang siklus hidup bangunan atau asset mereka.

Mari kita coba kupas sedikit dari setiap tahapan / cycle stage, yaitu :

[toggle title=”Desain” state=”open”]

  • Konseptual Desain
    Peralihan yang cepat pada elemen desain, termasuk diantaranya bentuk bangunan, keberlanjutan, permintaan klien, regulasi, biaya dan masih banyak lagi. Melakukan simulasi dan analisa.
  • Desain Bangunan yang berkelanjutan
    Analisa energi yang komplit sejak awal, mulai dari tahap desain. Untuk mengurangi pemakaian energi.
  • Dokumentasi Desain
    Membuat Model bangunan dan set komplit dari dokumen desain yang terintegrasi dengan database, dimana semua terkoneksi, real time, up to date, dan juga mengandung infromasi yang terkoordinasi.

[/toggle]

[toggle title=”Konstruksi” state=”close”]

Konstruksi Umum

  • Menghubungkan Perencanaan proyek dan simulasi sebagaimana hasil visualisasinya selama pekerjaan pelaksanaan konstruksi dan Fabrikasi secara digital.
  • Meningkatkan komunikasi dan kolaborasi diantara team yang terlibat dalam proyek tersebut.
  • Menciptakan estimasi biaya yang lebih akurat.
  • Menghasilkan dan juga memberikan lebih banyak proyek yang tepat waktu dan tepat biaya juga.

PreFabrikasi, dan konstruksi secara Modular

Mengekstrak informasi dari BIM untuk memproduksi secara Prefab bagian dan komponen bangunan, untuk meningkatkan dan mengefisienkan jadwal proyek, mengurangi dan mengefisiensikan biaya, meningkatkan efisiensi di site / lapangan dan menciptakan praktek / pelaksanaan konstruksi yang lebih hijau dengan mengurangi limbah material.

[/toggle]

[toggle title=”Manajemen” state=”close”]

Biaya Siklus Hidup

  • Menggunakan data dan informasi model bangunan untuk dapat mengelola operasional fasilitas dengan baik.
  • Memudahkan untuk menganalisa data model yang kaya informasi untuk mengoptimalisasikan segala sumber daya, dan mengurangi waste / limbah, juga dapat mengurangi biaya dari biaya operasional dan perawatan.
  • Menggunakan model 3D yang cerdas untuk membantu mengelola ruang dan melakukan validasi spasial bagi para tenant untuk mencegah kerugian.

[/toggle]

Nahh, dengan banyaknya keuntungan dan benefit di atas, keraguan akan implementasi BIM bagi para owner / pemilik pekerjaan sudah luruh sepenuhnya karena berdasarkan penelitian 44% dari para owners (yang telah mengimplementasikan BIM) memperkirakan mereka akan mencapai level yang tinggi dan juga penggunaan BIM akan semakin meningkat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia tentunya.

Owner yang telah mengimplementasikan BIM di beberapa negara juga melaporkan ROI / Return of Investment yang cukup besar (pada #weekendBIMtalk yang diadakan oleh Archilantis pada bulan Januari yang lalu sempat disampaikan perhitungannya secara general bagaimana mendapatkan efisiensi dengan BIM), ada yang sampai 500 persen, peningkatan produktifitas sampai 9% pada supply chain, dan dengan clash detection yang menjadi salah satu fitur BIM tools juga mampu mengurangi biaya langsung dari clash di lapangan, sehingga dapat menghemat atau mendapatkan keuntungan 3-5 kali lipat dari biaya langsungnya saja ketika konstruksi.

BIM juga memberdayakan para owner untuk meningkatkan keuntungan dan kemampuan pada era terkoneksi saat ini, diantaranya dapat mengkomparasi alternatif desain dan alternatif pelaksanaan / konstruksi dalam konteks proyek yang sama, meningkatkan pemanfaatan IoT / Internet of Things untuk penggunaan pada operasional yang berjalan serta menggunakan kemampuan BIM dalam efisiensi sebagai dasar baru bagi para owner.

Jadi…masih ragu untuk menggunakan BIM?

Keep safe and stay heath, juga keep distance… and Happy BIM… bimm..bimm-ers
(PAD-1)