Dalam berbagai pembahasan sebelumnya, istilah Building Information Modeling (BIM) sering muncul, baik dalam konteks desain, koordinasi, maupun interoperabilitas. Namun, pemahaman mendasar mengenai apa itu BIM sering kali masih beragam. Oleh karena itu, artikel ini membahas definisi BIM secara ringkas, jelas, dan profesional.
BIM merupakan singkatan dari Building Information Modeling, yaitu pendekatan berbasis model digital yang digunakan untuk merepresentasikan aset bangunan secara menyeluruh. Di Indonesia, BIM semakin banyak dibicarakan dan diadopsi, namun definisinya sering disalahartikan.
Sebagian orang menganggap BIM sebagai perangkat lunak, sebagian lain melihatnya sebagai model 3D, sementara yang lain memandang BIM sebagai kumpulan data bangunan. Pada praktiknya, BIM bukan hanya salah satu dari itu, melainkan kombinasi dari model, data, dan proses.
Secara sederhana, BIM selalu dimulai dari model digital tiga dimensi bangunan. Namun, model ini bukan sekadar visualisasi geometris. Model BIM terdiri dari elemen-elemen bangunan yang mewakili komponen nyata, seperti dinding, kolom, pintu, jendela, dan sistem bangunan lainnya.
Setiap elemen bersifat cerdas dan memiliki informasi terkait fungsi, spesifikasi, relasi, serta perilaku. Dengan karakteristik ini, BIM memungkinkan simulasi dan analisis bangunan secara digital sebelum konstruksi fisik dimulai, termasuk simulasi kinerja, koordinasi desain, dan evaluasi dampak keputusan teknis.
Perkembangan teknologi perangkat mobile, serta pemanfaatan VR dan AR, membuat akses terhadap model BIM tidak lagi terbatas pada profesional teknis. Pemilik bangunan dan pengelola aset kini dapat mengakses informasi BIM melalui berbagai perangkat, tanpa harus terlibat langsung dalam proses pemodelan.
ISO 19650:2019 mendefinisikan BIM sebagai:
Penggunaan bersama representasi digital dari aset yang dibangun untuk memfasilitasi proses desain, konstruksi, dan operasi sebagai dasar yang andal dalam pengambilan keputusan.
Sementara itu, US National Building Information Model Standard mendefinisikan BIM sebagai:
Representasi digital dari karakteristik fisik dan fungsional suatu fasilitas yang menjadi sumber informasi bersama dan dasar pengambilan keputusan sepanjang siklus hidup aset, sejak tahap konsepsi hingga pembongkaran.
Kedua definisi tersebut menegaskan bahwa BIM berfokus pada kolaborasi, informasi, dan siklus hidup aset, bukan sekadar pemodelan visual.
Berbeda dengan metode tradisional yang bergantung pada gambar dua dimensi, BIM memperluas representasi bangunan dengan menambahkan dimensi informasi, antara lain:
3D: geometri dan visualisasi
4D: waktu dan tahapan konstruksi
5D: biaya
6D–7D: operasi, pemeliharaan, dan keberlanjutan
Dengan pendekatan ini, BIM mencakup geometri, hubungan spasial, informasi kuantitatif, spesifikasi teknis, serta data operasional bangunan, walaupun dalam ISO 19650 istilah dimensi ini tidak pernah digunakan (menekankan pada penjelasan dan manfaat Informasinya)
Model BIM disusun dari objek parametrik yang saling terhubung. Perubahan pada satu elemen akan secara otomatis memengaruhi elemen lain yang terkait. Setiap objek dapat menyimpan atribut untuk keperluan kuantifikasi, estimasi biaya, penjadwalan, hingga pengelolaan material.
Dari satu model yang sama, berbagai tampilan dan informasi dapat diekstraksi secara konsisten, seperti gambar kerja, jadwal volume, dan analisis teknis lainnya.
Dalam proyek konstruksi, BIM memungkinkan berbagai disiplin—arsitek, insinyur, kontraktor, dan pengelola aset—bekerja pada representasi digital yang terkoordinasi. Setiap pihak menambahkan informasi sesuai perannya ke dalam model bersama atau model gabungan.
Pendekatan ini meningkatkan koordinasi desain, mengurangi konflik antar-disiplin, serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat terkait waktu dan biaya.
Konsep BIM mulai berkembang sejak tahun 1970-an, dengan kemunculan perangkat lunak pemodelan bangunan pada akhir 1970-an dan awal 1980-an. Pada masa awal, keterbatasan teknologi dan tingginya biaya perangkat keras membatasi adopsi BIM secara luas.
Istilah Building Information Modeling mulai digunakan pada awal 1990-an dan semakin populer setelah tahun 2000, seiring berkembangnya perangkat lunak dan meningkatnya kebutuhan industri akan kolaborasi digital.
Sejak saat itu, BIM berkembang menjadi pendekatan global dalam perencanaan, konstruksi, dan pengelolaan bangunan, serta menjadi dasar berbagai standar internasional yang digunakan saat ini.
BIM bukan sekadar alat atau model 3D, melainkan sebuah pendekatan terintegrasi untuk mengelola informasi bangunan sepanjang siklus hidupnya. Pemahaman yang tepat tentang BIM menjadi kunci untuk memanfaatkannya secara efektif, baik dalam konteks desain, konstruksi, maupun operasi aset bangunan.
Experd Building
PANTONE ROOM lt3,
Jl. Kemang Raya No.89,
Kemang, Kota Jakarta Selatan,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12730
Transformasi digital konstruksi Indonesia melalui standar internasional ISO 19650, solusi BIM profesional, dan pengembangan kompetensi berkelanjutan.